Kesehatan merupakan faktor yang sangat penting dalam penataan kehidupan bermasyarakat, oleh karena itu berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan kesehatan, Salah satunya adalah sanitasi total yang merupakan upaya bersama seluruh warga masyarakat.
Demikian antara lain disampaikan Tri Sabdono.AMKL Selaku Pelaksana Program Kesehatan Lingkungan, UPT Puskesmas Bantarsari, saat berbincang dengan ReOnkPost usai acara Sosialisasi Sanitasi Berbasis Masyarakat (STBM) yang diselenggarakan di Dusun Rawasari Desa Rawajaya Bantarsari Cilacap, Sabtu 03/06/17.
Lebih jauh, ia menjelaskan, bahwa Sanitasi Total Berbasis Masyarakat ( STBM ) adalah pendekatan untuk merubah perilaku higiene dan sanitasi melalui pemberdayaan masyarakat dengan metode pemicuan.
Ada lima pilar dalam program STBM yang di sosialisasikan yaitu
1. Tidak buang air besar (BAB) sembarangan.
2. Mencuci tangan pakai sabun.
3. Mengelola air minum dan makanan yang aman.
4. Mengelola sampah dengan benar.
5. Mengelola limbah cair rumah tangga dengan aman.
Target pencapaiannya adalah Open Defecation Free ( ODF ), yakni kondisi ketika setiap individu dalam komunitas tidak buang air besar sembarangan.
"Program sanitasi berbasis Masyarakat ini merupakan program Nasional yang ditargetkan untuk Milenium Development Goals (MDGs) pada tahun 2019 seluruh Indonesia sudah Stop Buang Air Besar Sembarangan" jelas Tri Sabdono
Selanjutnya, ia menjelaskan bahwa di Dinas Kesehatan Kabupaten Cilacap pada setiap tahunnya di targetkan terdapat dua desa di setiap kecamatan yang di deklarasikan stop buang air besar sembarangan.
Untuk Wilayah Kecamatan Bantarsari, pada tahun 2017 ini yang di prioritaskan untuk program STBM ini adalah Desa Rawajaya dan Desa Kamulyan.Sebelumnya Desa yang sudah di deklarasikan di kecamatan Bantarsari adalah Desa Cikedondong.
Untuk membantu pelaksanakan sosialisasi program STBM ini dibentuk tim Pemicuan tingkat Desa yang di Desa Rawajaya beranggotakan 5 orang dengan Ketua Misno. Tim pemicuan ini bertugas untuk melaksanakan pemicuan pada masyarakat agar menyadari bahwa kotoran BAB itu sesuatu yang jorok dan akhirnya terpicu untuk tidak membuangnya di sembarang tempat.
Untuk melihat berhasil atau tidaknya program ini di masyarakat, nantinya akan di lakukan pemetaan sosial melalui penandaan pada setiap rumah di lingkungan RT masing-masing.
Hasilnya nanti akan bisa di lihat melalui Aplikasi STBM-Smart Umum di smartphone yang bisa di unduh melalui Playstore dan bisa diakses oleh masyarakat luas.
Secara sederhana, Tri Sabdono mencontohkan untuk pelaksanaan pilar pertama, Tidak buang air besar (BAB) sembarangan, adalah membuat Jamban atau septik tank dengan jarak minimal 10 meter dari sumur sebagai sumber air minum. Karena, kotoran manusia itu mengandung bakteri E Coli (Escherichia coli) yang apabila mencemari air sumur dapat mengakibatkan berbagai penyakit seperti wabah kolera dan diare.
Sebagaimana di ketahui, meski kebanyakan E. Coli tidaklah berbahaya, tetapi beberapanya seperti E. Coli tipe O157:H7, dapat mengakibatkan hal buruk seperti keracunan makanan serius pada manusia yang menyebabkan diare.
Lebih jauh, ia menjelaskan, bahwa Sanitasi Total Berbasis Masyarakat ( STBM ) adalah pendekatan untuk merubah perilaku higiene dan sanitasi melalui pemberdayaan masyarakat dengan metode pemicuan.
Ada lima pilar dalam program STBM yang di sosialisasikan yaitu
1. Tidak buang air besar (BAB) sembarangan.
2. Mencuci tangan pakai sabun.
3. Mengelola air minum dan makanan yang aman.
4. Mengelola sampah dengan benar.
5. Mengelola limbah cair rumah tangga dengan aman.
Target pencapaiannya adalah Open Defecation Free ( ODF ), yakni kondisi ketika setiap individu dalam komunitas tidak buang air besar sembarangan.
"Program sanitasi berbasis Masyarakat ini merupakan program Nasional yang ditargetkan untuk Milenium Development Goals (MDGs) pada tahun 2019 seluruh Indonesia sudah Stop Buang Air Besar Sembarangan" jelas Tri Sabdono
Selanjutnya, ia menjelaskan bahwa di Dinas Kesehatan Kabupaten Cilacap pada setiap tahunnya di targetkan terdapat dua desa di setiap kecamatan yang di deklarasikan stop buang air besar sembarangan.
Tri Sabdono dan Misno saat berbincang dengan ReOnkPost
Untuk Wilayah Kecamatan Bantarsari, pada tahun 2017 ini yang di prioritaskan untuk program STBM ini adalah Desa Rawajaya dan Desa Kamulyan.Sebelumnya Desa yang sudah di deklarasikan di kecamatan Bantarsari adalah Desa Cikedondong.
Untuk membantu pelaksanakan sosialisasi program STBM ini dibentuk tim Pemicuan tingkat Desa yang di Desa Rawajaya beranggotakan 5 orang dengan Ketua Misno. Tim pemicuan ini bertugas untuk melaksanakan pemicuan pada masyarakat agar menyadari bahwa kotoran BAB itu sesuatu yang jorok dan akhirnya terpicu untuk tidak membuangnya di sembarang tempat.
Untuk melihat berhasil atau tidaknya program ini di masyarakat, nantinya akan di lakukan pemetaan sosial melalui penandaan pada setiap rumah di lingkungan RT masing-masing.
Hasilnya nanti akan bisa di lihat melalui Aplikasi STBM-Smart Umum di smartphone yang bisa di unduh melalui Playstore dan bisa diakses oleh masyarakat luas.
Secara sederhana, Tri Sabdono mencontohkan untuk pelaksanaan pilar pertama, Tidak buang air besar (BAB) sembarangan, adalah membuat Jamban atau septik tank dengan jarak minimal 10 meter dari sumur sebagai sumber air minum. Karena, kotoran manusia itu mengandung bakteri E Coli (Escherichia coli) yang apabila mencemari air sumur dapat mengakibatkan berbagai penyakit seperti wabah kolera dan diare.
Sebagaimana di ketahui, meski kebanyakan E. Coli tidaklah berbahaya, tetapi beberapanya seperti E. Coli tipe O157:H7, dapat mengakibatkan hal buruk seperti keracunan makanan serius pada manusia yang menyebabkan diare.
Sedangkan Salah satu komplikasi yang dinilai berbahaya, bahkan bisa berujung pada kematian, yaitu infeksi E. coli berupa sindrom hemolitik uremik, dimana sel darah merah mengalami masalah serius, serta beresiko mengalami gagal ginjal.
Kegiatan Sosialisasi yang di adakan di Kediaman Kepala Desa Rawajaya, Supriyatno tersebut di hadiri puluhan warga yang dengan antusias mendengarkan pemaparan Petugas Kesling UPT Puskesmas Bantarsari tersebut.
Menurutnya, Sosialisasi Program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) yang sudah di canangkan sejak tahun 2008 ini masih akan terus di jalankan hingga tercapai Open Defecation Free ( ODF ), yakni kondisi dimana setiap individu dalam komunitas tidak lagi buang air besar sembarangan. (mb)
Kegiatan Sosialisasi yang di adakan di Kediaman Kepala Desa Rawajaya, Supriyatno tersebut di hadiri puluhan warga yang dengan antusias mendengarkan pemaparan Petugas Kesling UPT Puskesmas Bantarsari tersebut.
Menurutnya, Sosialisasi Program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) yang sudah di canangkan sejak tahun 2008 ini masih akan terus di jalankan hingga tercapai Open Defecation Free ( ODF ), yakni kondisi dimana setiap individu dalam komunitas tidak lagi buang air besar sembarangan. (mb)
Sekianlah artikel Sosialisasi Program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat Di Gelar Di Rawajaya kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.
Anda sekarang membaca artikel Sosialisasi Program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat Di Gelar Di Rawajaya