Nenek Nasem (65) salah seorang warga Desa Bantarsari Kabupaten Cilacap hanya bisa pasrah ketika Sejumlah Truk yang mengangangkut Tanah urug mengurug lahan sawah milik peninggalan almarhum Ruhadi Ayahnya.
Nenek Nasem adalah salah satu petani penggarap lahan dari tahun 1960 bersama warga penggarap lainnya, yang harus merelakan lahannya untuk pengembangan Puskesmas Bantarsari dari status Rawat jalan menjadi Rawat inap.
" Sebenarnya Saya tidak menolak tapi, ganti ruginya itu ya yang patut. Ini kan cuma Rp 5,7 juta digenapkan jadi Rp 6 juta. Kalau dibagi 80 ubin, hanya Rp 70 ribu lebih. Saya ya enggak terima," tutur Nenek Nasem, dalam bahasa Jawa Banyumasan, Ketika di temui ReOnkpost.
Itu sebabnya, Nas em bersama puluhan petani lain di Desa Bantarsari, Kecamatan Bantarsari, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, menggelar aksi damai. Mereka menolak pengurukan lahan calon gedung Puskesmas Bantarsari seluas 80 ubin atau setara dengan 1.125 meter persegi, kemarin.
Sejak pagi, mereka membentangkan spanduk, mendirikan tenda keprihatinan, dan membawa berbagai hasil pertanian ke lokasi pengurukan sebagai simbol penolakan.
Sekianlah artikel Jeritan Warga Bantarsari , Soal Ganti Rugi Pengembangan Puskesmas Bantarsari kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.
Anda sekarang membaca artikel Jeritan Warga Bantarsari , Soal Ganti Rugi Pengembangan Puskesmas Bantarsari